Keajaiban Injury Time

Januari 22, 2009

Sepakbola itu berlangsung selama 90 menit plus beberapa menit tambahan waktu. Selama itu, haram hukumnya bagi setiap tim untuk lengah. Jika teledor, siap-siap saja dihukum dengan cara yang mengerikan.

Tapi di situlah soalnya. Tidak mudah untuk terus-menerus memicing mata dan memancangkan konsentrasi di menit-menit terakhir pertandingan, taroh kata di 5-10 menit terakhir. Ini bukan soal mau atau bukan, tapi perkara tenaga dan emosi yang sudah terkuras sehingga berkonsentrasi di menit-menit krusial itu kadang bukan perkara mudah.

Beruntunglah tim yang pemain-pemainnya bsa tetap fokus di menit-emnit akhir pertandingan. Jauh lebih beruntung lagi jika sebuah tim punya pemain yang bermental baja dan tidak mudah menyerah, sehingga ketinggalan gol hingga menit 80-an atau bahkan 90-an sama sekali tidak mengendurkan semangat dan vitalitas. Jika sudah begitu, tinggal butuh sedikit keberuntungan bagi tim macam itu untuk bisa bikin gol, entah gol penyama kedudukan atau gol penentu kemenangan. Baca entri selengkapnya »


Misteri Hari Buruk

Januari 19, 2009

Tentu saja mengejutkan menyaksikan Inter Milan dikalahkan Atalanta dengan skor cukup mencolok: 1-3. Performa Inter, terutama di babak pertama, amatlah buruk. Mudah sekali Atalanta membobol Inter, teramat mudah bahkan.

Inter bermain lebih baik di babak kedua, buktinya Ibrahimovic bisa bikin gol. Tapi, Inter sebenarnya bisa kebobolan lebih banyak. Atalanta tetap mengancam. Terlihat, lini pertahanan Inter amat mudah digoyang. Atalanta kurang beruntung di babak kedua sehingga mereka tak mampu membikin gol.

Ini tentu cukup memalukan bagi Inter dan Mourinho. Tapi, saya cenderung setuju dengan komentar Jazvier Zanetti, bahwa: siapa saja bisa mengalami hari buruk! Baca entri selengkapnya »


Lelaki Tua di Lapangan

Januari 18, 2009

Ya, tentu Anda agak cukup akrab dengan judul tulisan ini. Tidak bisa tidak, judul tulisan ini memang mirip dengan novel hebat karangan Hemingway, “Lelaki Tua dan Lautan” (The Old Man on the Sea).

Terus terang saya teringat novel Hemingway itu saat menyaksikan bagaimana Manchester United (MU) mengalahkan Bolton Wanderers di kandangnya sendiri, Reebok Stadium. Di tengah persaingan kompetisi yang makin ketat, badai cedera yang mendera, jadwal yang padatnya gila-gilaan plus kekalahan di tempat yang sama pada tahun lalu, kemenangan 1-0 sudah lebih dari cukup. Paling tidak, kemenangan ini membawa MU menduduki tampuk klasemen untuk pertama kalinya di musim ini.

Bolton bertahan dengan sangat baik dan sesekali sempat merepotkan. Upaya Kevin Davies membelokkan tendangan keras rekannya dengan heading pada lima menit terakhir bisa saja mengubah pertandingan. MU sendiri bukannya tak banyak peluang, cukup banyak malah. Terobosan dari lini kedua, melalui Fletcher misalnya, yang dua kali bisa memberi crossing yang bagus, gagal membuahkan gol. Dua free kick Ronaldo yang amat deras juga dimentahkan oleh Jussi Jaskelainen. Baca entri selengkapnya »


Saga Transfer

Januari 17, 2009

Semua media di Eropa sibuk menyimak perburuan Manchester City untuk mendapatkan Kaka. Rumor sangat kencang beredar: 100 juta poundsterling untuk biaya transfer dan 500 ribu poundsterling per pekan untuk gaji Kaka.

Itu nominal yang benar-benar gila. Tak pernah ada yang membayangkan jika rekor Zidane yang sudah bertahan selama 7 tahun bakalan langsung pecah dengan nominal yang lipatannya nyaris dua kali lipat dari biaya yang dikeluarkan Madrid untuk mendapatkan Zidane dari Juve. Tawaran gaji Kaka sendiri sungguh di luar nalar. Besarnya hampir lima kali lipat gaji John Terry yang mencapai 140 ribu poundsterling per pekan.

Nominal sebesar itu sudah cukup membikin halaman-halaman olahraga media massa di Eropa menyimak dengan teliti perkembangan saga ini, jauh lebih teliti ketimbang menyimak isu transfer Ronaldo di musim panas kemarin. Soalnya sederhana: MU terang-terangan menolak godaan Madrid, sementara Milan tampak tergoda dan bahkan membuka diri untuk bernegosiasi dengan City. Baca entri selengkapnya »


Politik Bola

Januari 16, 2009

Belakangan FIFA makin tegas menjauhkan sepakbola dengan politik.

Ketegasan itu tercermin dalam beleid yang melarang pemerintah sebuah negara turut campur dalam segala urusan federasi sepakbola di negaranya masing-masing.

Hanya saja, politik tak pernah bisa dienyahkan begitu saja dari lapangan hijau. Sejarah sepakbola modern banyak sekali dihiasi dengan fragmen-fragmen historis yang menunjukkan bagaimana politik begitu kerap memengaruhi sepakbola.

Peristiwa paling terkenal muncul pada Italia di Piala Dunia 1934. Diktator Bennito Mussolini mengancam akan menembak pemain Italia jika tak mampu menggondol gelar juara. Situasi pelik ini, diam-diam, justru membentuk karakter sepakbola Italia yang masyhur dengan taktik pertahanan “cattenacio” (secara harfiah berarti: “kunci”). Strategi bertahan itu mencerminakn ketertekanan mental segenap pemain dan offisial tim Italia akibat tuntutan Mussolini untuk merebut Piala Dunia 1934. Baca entri selengkapnya »


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.